Bekerjalah kalian, dan hendaklah diantara kalian menjadikan takarannya sebagai tasbihnya, kampak sebagai tasbihnya, jarum sebagai tasbihnya, dan hendaklah kepergiannya (untuk bekerja) juga sebagai tasbihnya.

Seorang hamba tentunya sangat sadar dan mengerti, bahwa pekerjaan bukanlah sebab hakiki turunnya rizki dari Allah swt. Karena sesungguhnya rizki pasti akan mendatanginya. Pada dasarnya, rizki sama dengan kematian, keduanya sama sekali tidak bisa dihindari oleh manusia. Bedanya, dalam urusan datangnya rizki hati seorang hamba dikuasai perasaan takut hilang, sedangkan untuk kasus datangnya kematian, hati seorang hamba dikuasai perasaan takut datang.

Allah swt telah menjamin rizki semua hambanya. Ketidaktahuan seorang hamba terhadap rizki apa yang akan menghampirinya hanyalah karena keterbatasan pengetahuannya sebagai manusia, sedangan pengetahuan Allah swt jauh melebihi segala pengetahuan yang ada di dunia. Jika demikian, maka memang diharuskan bagi seorang hamba untuk “berusaha dengan keras” melalui bekerja, bukan untuk mencari rizki (karena ia akan datang dan tidak akan pernah salah sasaran), namun untuk mencari ridha Allah swt.

Maka, seorang hamba hendaknya memiliki cara yang berbeda dalam melaksanakan pekerjaannya. Hendaklah ia menjadikan seluruh alat yang digunakannya untuk bekerja sebagai sebuah tasbih untuk mengingat Allah swt dan untuk mengais ridhanya.

Para ulama sepakat bahwasanya bekerja adalah wajib, dan kewajiban bekerja itu setingkat dengan tingkatan iman. Kenapa? Orang yang tidak memiliki pekerjaan akan “lebih mudah” terjerumus dalam jurang kefakiran, yang kefakiran itu sendiri juga berpotensi mengantarkannya pada kekufuran. Karena itulah para ulama mewajibkan murid-muridnya untuk bekerja, sebagaimana mereka mewajibkan murid-muridnya untuk beriman kepada Allah swt.

Kesepakatan ulama tentang kewajiban bekerja itu memang benar. Sebab manusia hidup tidak bisa terlepas dari hajat kebutuhan, lebih-lebih mereka yang sudah berkeluarga. Mereka mempunyai tanggung jawab dan kewajiban memberi nafkah terhadap anak dan istrinya, serta mencukupi kebutuhan sehari-hari sesuai dengan kadar kemampuan yang ada. Oleh karena itu, banyak dari ulama’ kita tetap menjadi seorang pekerja/pengusaha saat sudah menjadi ulama’ besar.

Nafkah yang halal tentu hanya bisa didapatkan oleh mereka yang mau berusaha (bekerja) sesuai dengan bidang keahliannya. Dengan bekerja, seseorang bisa mandiri dan terhindar dari sifat-sifat yang tamak, serta menggantungkan diri pada orang lain, serta terhindar dari meminta-minta. Saat seorang hamba sudah mulai menggantungkan sesuatu pada selain Allah swt, saat itu jugalah ia mulai menjatuhkan dirinya pada jurang-jurang kecelakaan. Wallahu a’lam.