Tanda ikhlas itu ada tiga: Pertama, menganggap sama pujian dan celaan serta tidak terpengaruh oleh orang banyak. Kedua, lupa terhadap amal yang telah dilakukannya. Terakhir, mengharapkan pahala dari amal-amalnya di akhirat (tidak mengharap kepada manusia).

عن ذي النون رحمه الله تعالى قال: ثلاث من علامة الإخلاص: استواء المدح والذم من العامة ونسيان رؤية العمل في الأعمال واقتضاء ثواب الأعمال في الآخرة . التبيان في آداب حملة القرآن, الإمام يحي بن شرف النواوي

Para ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan ikhlas, tapi pada dasarnya ikhlas mengandung makna yang sama yaitu semata-mata hanya karena Allah swt.

Seperti perkataan Abi al-Qosim al-Qusyairy:

“Ikhlas adalah taat kepada Allah swt dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya tanpa ada tujuan lainnya, seperti berpura-pura dihadapan makhluk, menunjukkan perbuatan yang terpuji kepada manusia, mengharapkan cinta dan pujian, atau suatu tujuan selain untuk mendekatkan diri kepada Allah.” 

Beliau juga menambahkan, “Bisa dikatakan, ikhlas itu adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk”.

قال أبو القاسم القشيري رحمه الله: الإخلاص إفراد الحق سبحانه في الطاعة بالقصد وهو أن يريد بطاعته التقوى إلى الله سبحانه دون شيئ آخر من تصنع لمخلوق أو اكتساب صفة حميدة عند الناس أو محبة مدح من الخلق أو معنى من المعاني سوى التقرب إلى الله به ويصح أن يقال: الإخلاص تصفية الفعل عن ملاحظة المخلوقين

(فتح المنان, السيد أبو عاصم نبيل بن هاشم الغامري. ٢/٣١٦)

Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal kecuali didasari dengan ikhlas dan hanya untuk mencari ridha.” (HR Ibnu Majah)

Dalam melakukan amal kebaikan, ikhlas menjadi sebuah kunci utama. Sebagaimana dijelasakan oleh Ibnu Athaillah dalam al-Hikam yang mengibaratkan bahwa amal kebaikan tanpa keikhlasan itu seperti jasad tanpa nyawa. Tidak lain karena ikhlas adalah ruh/nyawa dari setiap amal yang dilakukan manusia. Oleh karena itu setiap amal yang dilakukan tanpa keikhlasan, amal tersebut mati karena tidak ada ruhnya. Mari belajar ikhlas, pelan-pelan saja 🙂