Kapankah seorang penggembala dapat menuntun gembalaan-nya dengan penuh perhatian, agar terhindar dari ladang yang penuh marabahaya? Ia menjawab: Ketika penggembala itu tahu bahwa disana ada yang mengawasinya.

Rasulullah saw bersabda:

الا كلكم راع وكلكم مسؤل عن رعيته

“Ketahuilah! Setiap dari kalian adalah penggembala (pemimpin), dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas gembalaan-nya (yang dipimpin) masing-masing.” (HR. Bukhori)

Setiap hamba diperintahkan untuk memelihara dan menjaga segenap tingkah lakunya sampai pada level dimana seorang hamba tidak melakukan apa-apa kecuali telah diperintahkan dan diizinkan oleh Allah swt. Maka penjagaan dan pemeliharaan ini tidak akan sempurna kecuali dengan merasa bahwa seorang hamba selalu diawasi oleh Allah swt. 

Begitulah manusia, tanpa merasa ada Dzat yang selalu mengawasi tingkah laku nya, termasuk tuntutan melakukan hukum-hukum yang diperintahkan-Nya. Maka tidak mungkin manusia akan sampai pada tujuan dan apa yang dicita-citakannya. 

Terkadang seseorang hanya merasa takut pada sisi dhohir, takut melakukan maksiat, takut melakukan pelanggaran di depan manusia. Namun ketika keadaan sepi berani melakukan pelanggaran dan kedurhakaan pada Allah. Demikian ini bukanlah yang dimaksud dengan hakikat muroqobah atau merasa selalu diawasi. 

Hakikat dari muroqobah yaitu seperti yang dikatakan oleh Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah,
“Yang dikehendaki dari Muroqobah yaitu langgengnya pengetahuan dan keyakinan seorang hamba atas pengawasan Allah yang maha Haq atas segala tingkah dan perilakunya dalam sisi dhohir maupun batin, baik di keramaian manusia ataupun sepinya manusia.” 

Inilah yang disebut muroqobah sesungguhnya. Muroqobah yang sejati adalah saat seorang hamba yang sudah bisa meyakini secara terus menerus bahwa Allah senantiasa mengawasi dan melihat tingkah lakunya.

Allah berfirman,

واعلموا أن الله يعلم ما في أنفسكم فاحذروه واعلموا أن الله غفور حليم 

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (QS. al-Baqarah: 235)

Dengan senantiasa melakukan muroqobah hamba akan sampai pada tujuan yang dicita-citakannya sesuai kehendak dan janji Allah. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk senantiasa melakukan ketaatan pada-Nya.