Pada hari kiamat nanti, ketika tirai untuk melihat pahala amal manusia disingkap, mereka tidak akan melihat amal yang paling utama pahalanya melebihi dzikir kepada Allah swt. Lalu beberapa orang merasa menyesal dan mengatakan, padahal tiada amal yg paling mudah bagi kita melebihi dzikir

إذا انكشف الغطاء يوم القيامة عن ثواب أعمال البشر لم يروا ثوابا أفضل من ذكر الله فيتحسر أقوام فيقولون ما كان شئ أيسر علينا من الذكر

Dalam hadits Qudsi yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Allah berfirman,

“Aku berada dalam prasangka hamba-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam perkumpulan, maka Aku mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik daripada mereka.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan para shahabat untuk memperbanyak dzikir. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, “Perbanyaklah dzikir sampai-sampai manusia menganggapmu gila”. Dzikir adalah sebuah bentuk ibadah yang sangat agung derajat dan pahalanya.

Dalam riwayat Muslim, Nasai dan Al-Bazzar disebutkan,

“Maukah kalian kutunjukkan amalan yang terbaik dan paling suci di sisi Rabbmu, yang paling mengangkat derajatmu, lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu lantas kamu memenggal leher mereka atau mereka memenggal lehermu?” Para sahabat menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullah!” Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi.”

Dzikir juga merupakan pembeda antara iman dan kufur, hakekat hidup dan mati. Dalam riwayat At-Thabrani, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan, “Siapa yang tidak ingat kepada Allah (tidak berdzikir) berarti terlepas imannya.” “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak, adalah seperti orang hidup dengan orang mati.”

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Hai anak Adam. Bila kau mengingat-Ku, berarti bersyukur kepada-Ku. Lupa kepada-Ku, berarti mengkufuri-Ku.” Yang dimaksud ‘lupa’ disini adalah sengaja tidak memperdulikan Allah dan berbuat syirik. Atau, membiarkan dirinya hanyut dalam perbuatan-perbuatan yang tidak diridloi Allah. Ini adalah sesuatu yang sangat dicela dalam agama.