Ketika perut itu kenyang maka fikiran akan tidur (tidak bekerja), hikmah tidak akan masuk, dan anggota badan akan malas untuk beribadah

قال لقمانُ لابنه: “إذا مُلِئت المعدة نامت الفكرة وخرست الحكمة، وقعدت الأعضاءُ عن العبادة”. إحياء علوم الدين

Syahwat perut sejatinya adalah perkara terbesar yang merusak diri hamba. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa dikeluarkannya Adam dan Hawa dari surga yang penuh nikmat adalah karenanya. Mereka dilarang makan buah khuldi namun syahwat menguasai dan menuntun untuk melanggar aturan Allah swt.

Perut sejatinya adalah sumber utama munculnya syahwat, juga sumber dari segala penyakit dan kesengsaraan. Dari perut akan merambah ke farji, lalu akan lebih suka memperbanyak makan dan syahwat dunia yang lainnya. Setelah tersibukkan dengan berbagai syahwat maka hamba akan cenderung berani melanggar batasan-batasan Allah swt dan mulai malas melakukan berbagai amal kebaikan.

Sedemikian hinanya syahwat perut. Maka Rasulullah saw sangat menganjurkan untuk mempersering mengkosongkan perut. Karena sekali lagi dengan perut kosong, hikmah akan gampang masuk, fikiran akan terang, dan ibadah akan menjadi semangat.

Jadi, mari kita melakukan muhasabah terhadap praktik puasa kita sejauh ini. Apakah semakin dekat dengan tujuannya, atau justru semakin menjauhkannya? 🙂