Diliputi waswas, takut secara terus menerus atas datangnya musibah, dan selalu waspada atas hilangnya kenikmatan. Semua itu termasuk bentuk su’udzan kepada Allah yang mempunyai sifat Rahman dan Rahim

سُئل الشافعي رحمه الله تعالى كيف يكون سوء الظن بالله ؟

قال : الوسوسة، والخوف الدائم من وقوع مُصِيبَة، وترقب زوال النعمة، كلها من سوء الظن بالرحمن الرحيم

حلية الأولياء – ٩/١٢٣

Suatu ketika Imam Syafi’i ditanya oleh seseorang tentang bagaimanakah bentuk suudzan (berburuk sangka) kepada Allah. Kemudian beliau menjawab “Diliputi waswas, takut secara terus menerus atas datangnya musibah, dan selalu waspada atas hilangnya kenikmatan. Semua itu termasuk bentuk su’udzan kepada Allah yang mempunyai sifat Rahman dan Rahim.”

Katakanlah kepada orang yang hatinya dipenuhi sifat pesimis dan terus menerus mempersempit cakrawala disekitar kita. Rahasia kebahagian adalah prasangka baikmu atas Dzat yang telah menciptakan kehidupan dan memberikan rizki didalamnya.

Khauf (rasa takut) dan Raja’ (pengharapan) merupakan sesuatu yang lazim ada pada diri manusia. Raja’ adalah sikap pengharapan seorang hamba atas wujudnya surga, kebahagiaan, dan nikmat setelah melakukan suatu amal sholih. Sedangkan Khauf adalah rasa takut yang seharusnya dimiliki oleh seseorang setelah melakukan dosa dan kesalahan-kesalahan. Sayangnya, seseorang umumnya memiliki kecenderungan berlebihan atas Raja’ ataupun Khauf. 

Padahal Allah swt. telah berfirman,

لكيلا تأسو على ما فاتكم ولا تفرحوا بما اتاكم

“Agar kalian semua tidak terlalu bersedih atas sesuatu yang luput dari mu, dan juga agar kalian tidak terlalu gembira atas suatu nikmat yang diberikan Allah padamu.” (QS 57: 23)

Seorang hamba idealnya cukup mengambil titik tengah dan menyeimbangkan antara sikap khauf dan raja’. Berlebihan dalam bersikap khauf hanya akan melahirkan buruk sangka kepada Allah. Begitupula berlebihan dalam bersikap raja’, ia hanya akan melahirkan sifat kecerobohan. Bagaimana caranya? Yaitu dengan bersikap khauf ketika diperlukan, dan bersikap raja’ ketika diperlukan juga, semua dengan kadar secukupnya.

Ketika seseorang melakukan dosa namun disertai dengan rasa khauf yang berlebihan, hendaknya juga diimbangi dengan perasaan raja’ (harap) terhadap ampunan Allah. Begitupun jika seorang melakukan banyak kemaksiatan namun “over” dalam perasaan raja’, ia akan cenderung merasa aman dari siksa Allah yang benar-benar nyata adanya. Maka berlaku proporsional dan pertengahan terhadap dua sikap ini adalah yang utama. Karena hakikatnya, Allah berjanji terhadap 2 hal sekaligus:

يغفر لمن يشاء و يعذب من يشاء

“Dia memberi ampun kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa siapa yang Dia kehendaki.” (QS 3: 129)

Ya Allah karuniai kami sifat husnudzan (berbaik sangka) kepada-Mu, Aamin.