Tinggalkanlah mengurusi orang yang berada di sekelilingmu dan serahkanlah segalanya pada Allah swt, maka engkau akan menemukan ketenangan.

دع التدبير إلى من خلقك تتسرح

Seorang hamba memang sudah selayaknya melakukan proses penyerahan diri kepada Allah swt terhadap segala persoalan yang dihadapinya. Menurut Imam Ghazali, ada dua hal yang menjadi penyebab keharusan seorang hamba untuk senantiasa berserah kepada Allah swt.

Pertama, proses penyerahan diri menjadikan hati selalu tenang dalam kondisi apapun. Jika suatu persoalan yang muncul masih samar dan belum jelas dampak positif dan negatifnya, maka ia dapat menyebabkan hati berada dalam suasana yang gelisah. Sehingga kemudian jiwa menjadi tidak tenang, dan ia tidak tahu apakah akan jatuh pada kehancuran atau justru berada dalam kebaikan.

Jika seorang hamba menyerahkan segala urusan dan persoalan yang dihadapinya kepada Allah swt, maka ia akan tahu bahwa ia tidak akan jatuh kecuali dalam ranah kebaikan dan terbebas dari berbagai malapetaka. Dalam kondisi apapun, hati seorang hamba akan merasa tenang. Ketenangan dan kedamaian yang dirasakan oleh hati menjadi harta yang tak ternilai harganya.

Kedua, Penyerahan diri senantiasa mendatangkan kemashlahatan dan kebaikan. Ini disebabkan oleh belum jelasnya segala perkara yang ada di dunia. Begitu banyak kejelekan yang mirip dengan kebaikan, pun sebaliknya, banyak sekali hal-hal merusak yang tampak memberikan manfaat.

Jika seorang hamba menyerahkan segala persoalan kepada Allah swt dan memohon agar Allah memberikan jelan terbaik baginya, maka ia akan secara nyata menemukan kebaikan dalam setiap perjalanannya.

Allah swt berfirman,

“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (QS. Al-Mu’min: 44-45)