Hamba yang tertipu adalah ia yang sibuk mengurusi aib orang lain, dan ia lupa dengan aibnya sendiri.

قال الحارِث المُحَاسِبي ان المخدوع يشغل بعيوب غيره عن عيوب نفسه. فرحة النفوس بشرح تاج العروس بلال احمد الرفاعي

Seorang hamba yang mukmin adalah orang yang bisa melihat betapa banyaknya aib yang ada dalam dirinya sendiri dan tidak berani memberi label aib kepada orang lain. Ia selalu merasa tidak lebih baik dari orang lain, dan terus melakukan muhasabah (introspeksi) pada dirinya sendiri. Ia menghitung dosa dan kesalahannya, bukan menghitung dosa dan kesalahan orang lain. Ia tidak pernah merasa menjadi orang yang paling baik dibandingkan dari orang lain di sekitarnya.

Biasanya, ketika seorang hamba sudah merasa lebih baik dan mulai sibuk mengurusi aib-aib orang lain, ia akan lupa untuk bercermin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa Allah swt hanya menutup aib-aibnya dan menampakkan sisi baiknya. Bisa jadi, aib yang ditutup oleh Allah swt lebih banyak dari aib-aib orang lain yang diketahuinya. Inilah yang dimaksud dengan hamba yang tertipu.

Hamba yang tertipu sangat hobi untuk melihat kesalahan dan aib orang lain. Bahkan ia tidak segan untuk membuka dan menyebarkan aib orang lain dengan begitu semangat.

Imam al-Ghazali berkata,

“Barang siapa mendengar aib dan kesalahan orang lain, sedangkan ia mampu untuk membeberkannya (punya kesempatan untuk menceritakan lagi kepada orang lain), maka ia akan sangat sulit bersabar untuk tidak menyebarkannya.”

Alkisah, pada suatu ketika seseorang mengejek Umar bin Khattab akan aibnya, lalu beliau menjawab, “Sesungguhnya yang Allah tutup darimu jauh lebih banyak.”

Hakikatnya, seorang mukmin selalu mawas diri dan tidak lupa akan aibnya. Mungkin saja, banyaknya aib dalam diri kita hanya sedang ditutup oleh Allah swt. Kapanpun Allah swt berkehendak, maka sudah tentu Allah akan dengan sangat mudah membuka aib demi aib yang ada dalam diri kita. Allahumma usturna bisitrika al jamil.