Tafakkur itu adalah petualangan hati di medan ciptaan Allah swt. Tafakkur adalah lentera bagi hati, jika terangnya lenyap, maka hati menjadi gelap.

الفكرة سير القلب في ميادين الاغيار وسراج القلب فإذا ذهبت فلا أضاءة له. ابن عطاء الله السكندري

Tafakkur (berfikir dengan sungguh-sungguh) adalah perjalanan hati dalam ranah ke-makhluk-an atau di medan makhluk dan ciptaan Allah swt berupa langit, bumi dan seluruh isinya. Dengan kata lain, tafakkur adalah petualangan hati ditengah berbagai jenis makhluk dan ciptaan Allah swt yang bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan pelajaran, serta tanda-tanda yang bisa menghantarkan kepada ma’rifatullah dan mengetahui sifat-sifat kesempurnaan-Nya. 

Jika hati bertafakur tentang wujudnya makhluk, maka ia akan dituntun kepada sang pencipta. Jika hati bertafakkur tentang kebaikan dan buahnya berupa pahala, maka akan terdorong untuk melaksanakan kebaikan karena berharap mendapatkan pahala itu. Jika hati bertafakkur tentang keburukan dan buahnya berupa siksaan, maka akan terdorong untuk meninggalkan keburukan dan tidak mau mendekatinya. Apabila hati bertafakkur tentang kefanaan dunia, maka akan menghasilkan sifat zuhud. Bila hati bertafakkur tentang nikmat dan karunia Allah, maka akan menambah kecintaan dan rasa syukur kepada sang pemberi nikmat.

Tafakkur bagaikan lentera hati atau lampu yang menerangi kegelapan. Dengan cahaya yang terpancar dari lentera itu, hakikat dan kebenaran segala sesuatu akan tampak sehingga yang benar tampak benar dan yang bathil tampak bathil. Dengan tafakkur, kebesaran dan keagungan Allah swt akan dikenali dan dilihat. Dengan tafakkur juga bencana dan cacat jiwa, tipuan musuh dan tipuan dunia akan dapat dideteksi. Dengan tafakkur, cara-cara untuk menghindari semua tipuan itu bisa dipelajari. Jika tafakur itu sirna dihati, maka hati tidak akan bercahaya. Hati akan hampa dari pikiran dan cahaya, ibarat sebuah rumah yang gelap gulita. Maka yang ada di hati hanyalah kebodohan dan tipu daya.

(Disarikan dari kitab: al-Minahul Qudsiyah ala Hikam al-Atho’iyah, karya Syaikh Abdullah asy-Syarqowi)